Suku Aceh

suku Aceh
Suku Aceh, adalah suatu suku bangsa yang berada di paling ujung utara pulau Sumatra, tepatnya di provinsi Nanggroe Aceh. Populasi suku Aceh ini diperkirakan lebih dari 3,6 juta orang.

Suku Aceh berbicara dalam bahasa Aceh, yang masih berkerabat dengan bahasa Mon Khmer (Champa) suatu bangsa yang berada di kawasan Indochina.

Menurut dugaan, nenek moyang suku Aceh diduga adalah berasal dari keturunan berbagai suku-bangsa, seperti Melayu dari Semenanjung Malaysia, Cham, Arab dan India.
Dilihat dari budaya Aceh bahwa dahulunya suku Aceh sebelum memeluk agama Islam, budaya Hindu pernah masuk ke dalam masyarakat Aceh, terlihat dari beberapa tradisi budaya Aceh mengandung unsur Hindu dan India. Selain itu banyak kosakata dalam bahasa Aceh yang menggunakan bahasa dasar India atau Sanskerta. Sejak orang Aceh memeluk agama Islam, tradisi asli mereka pun banyak berubah, dan disesuaikan dengan budaya Islam. Suku Aceh adalah suku pertama di Indonesia yang memeluk agama Islam. Mereka mendirikan Kerajaan Islam pertama di Indonesia.

Di tanah Aceh, pada masa dahulu banyak disinggahi oleh suku-bangsa asing. Pedagang dari negeri Yaman yang berasal dari provinsi Hadramaut banyak melakukan hubungan dagang di wilayah Aceh ini, pedagang dari Yaman ini kebanyakan menetap serta melakukan kawin-campur dengan penduduk asli Aceh. Terbukti dari keturunan-keturunan orang Yaman dengan marga al-Aydrus, al-Habsyi, al-Attas, al-Kathiri, Badjubier, Sungkar, Bawazier dan lain lain. Lalu suku-bangsa India dari Gujarat dan Tamil, yang terlihat dari banyak orang Aceh yang berpenampilan wajah seperti orang India dan Tamil, berkulit gelap dan rambut keriting. Serta jenis makanan (kari) yang merupakan warisan kebudayaan India-Hindu (nama desa yang diambil dari bahasa Hindi, contoh: Indra Puri). Keturunan India tersebar di seluruh Aceh. Karena letak geografis yang berdekatan berseberangan dengan wilayah India, maka keturunan India cukup dominan di Aceh. Kemudian pedagang Tiongkok juga pernah memiliki hubungan yang erat dengan bangsa Aceh, dibuktikan dengan kedatangan Laksamana Cheng Ho, yang pernah singgah dan menghadiahi Aceh dengan sebuah lonceng besar, yang sekarang dikenal dengan nama Lonceng Cakra Donya, tersimpan di Banda Aceh.
Ada juga dari Persia (Iran/Afghan) dan Turki, mereka pernah datang atas undangan Kerajaan Aceh untuk menjadi ulama, pedagang senjata, pelatih prajurit dan serdadu perang kerajaan Aceh, dan saat ini keturunan keturunan mereka kebanyakan tersebar di wilayah Aceh Besar. Hingga saat ini bangsa Aceh sangat menyukai nama-nama warisan Persia dan Turki. Bahkan sebutan Banda, dalam nama kota Banda Aceh pun adalah warisan bangsa Persia (Bandar arti: pelabuhan). Di samping itu ada pula keturunan bangsa Portugis, di wilayah Kuala Daya, Lam No (pesisir barat Aceh). Mereka adalah keturunan dari pelaut-pelaut Portugis di bawah pimpinan nakhoda Kapten Pinto, yang berlayar hendak menuju Malaka (Malaysia), dan sempat singgah dan berdagang di wilayah Lam No, dan sebagian besar di antara mereka tetap tinggal dan menetap di Lam No sekitar tahun 1492-1511. Saat ini dapat dilihat keturunan mereka yang masih memiliki profil wajah Eropa yang kental.

Oleh karena itu banyak masyarakat Aceh yang mengartikan ACEH adalah singkatan dari kata "A=arab, C=china, E=eropa dan H=hindustan).

Aceh juga memiliki banyak seni budaya, seperti tari-tarian, yaitu:

  • Tari Rabbani Wahed
  • Tari Ranup Lampuan
  • Tari Seudati
  • Tari Rateb Meuseukat
  • Tari Likok Pulo

Rumoh Aceh
Masyarakat Aceh mayoritas bekerja sebagai petani pada tanaman padi, jagung, ubi dan tanaman keras seperti kelapa, kopi dan cengkeh. Di beberapa tempat terpencil, terdapat juga tanaman ganja, yang menurut cerita, bahwa tanaman ini tumbuh secara liar di daerah pegunungan dan kaki gunung. Tanaman ini dikelola secara sembunyi-sembunyi, karena tanaman ini termasuk salah satu yang dilarang oleh pemerintah. Selain itu masyarakat suku Aceh, banyak juga yang menjadi nelayan, bagi yang tinggal di daerah pesisir, dan yang lain menjadi pedagang, dan berbagai bidang profesi lainnya.

sumber:
  • wikipedia
  • acehmagazine.com
  • acehdalamsejarah.blogspot.com
sumber lain dan foto:
  • arifuddinali.blogspot.com
  • annisaa10211978.blogspot.com
Load disqus comments

0 komentar